Kamis, 16 Mei 2013

KONSELING REALITA



1.1 Definisi Konseling Realita
          Terapi realitas adalah suatu sistem yang difokuskan kepada tingkah laku sekarang. Terapis berfungsi sebagai guru dan model serta mengkonfrontasikan klien dengan cara-cara yang bisa membantu menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Inti terapi realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi, yang dipersamakan dengan kesehatan mental. Terapi realitas yang menguraikan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur yang dirancang untuk membantu orang-orang dalam mencapai suatu “identitas keberhasilan” dapat diterapkan pada psikoterapi, konseling, pengajaran, kerja kelompok, konseling perkawinan, pengelolaan lembaga dan perkembangan masyarakat. Terapi realitas meraih popularitas di kalangan konselor sekolah, para guru dan pimpinan sekolah dasar dan menengah, dan para pekerja rehabilitasi.
            Sedangkan menurut Paul D. Meier, dkk., terapi realitas yang diperkenalkan oleh William Glasser memusatkan perhatiannya terhadap kelakuan yang bertanggung jawab, dengan memperhatikan tiga hal (3-R): realitas (reality), melakukan hal yang baik (do right), dan tanggungjawab (responsiblility).
Individu harus berani menghadapi realitas dan bersedia untuk tidak mengulangi masa lalu. Hal penting yang harus dihadapi seseorang adalah mencoba menggantikan dan melakukan intensi untuk masa depan. Seorang terapis bertugas menolong individu membuat rencana yang spesifik bagi perilaku mereka dan membuat sebuah komitmen untuk menjalankan rencana-rencana yang telah dibuatnya. Dalam hal ini identitas diri merupakan satu hal penting kebutuhan sosial manusia yang harus dikembangkan melalui interaksi dengan sesamanya, maupun dengan dirinya sendiri. Perubahan identitas biasanya diikuti dengan perubahan perilaku di mana individu harus bersedia merubah apa yang dilakukannya dan mengenakan perilaku yang baru. Dalam hal ini terapi realitas dipusatkan pada upaya menolong individu agar dapat memahami dan menerima keterbatasan dan kemampuan dalam dirinya.
1.2 Perspektif Historis
          Konseling realita (reality counseling atau reality therapy) dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1960-an sebagai reaksi penolakan terhadap konsep-konsep dalam konseling psikoanalisa. Glasser memandang Psikoanalisa sebagai suatu model perlakuan yang kurang memuaskan, kurang efektif,dan oleh karena itu ia termotivasi untuk memodifikasi konsep-konsep psikoanalisa dan mengembangkan pemikirannya sendiri berdasarkan pengalaman hidup dan pengalaman klinisnya.
          Glasser lahir pada tahun 1925 di Ohio, USA. Pada awal karirnya Glasser adalah seorang insyinyur kimia yang kemudian beralih ke bidang medis dan meraih gelar dokter pada tahun 1953 dari Case Westem Reserve University. Setelah itu Glasser berlatih dibidang psikiarti di Veterans Administrasion Center dan  di University of California. Konseling realita dikembangkan oleh Glasser atas dasar pengalamanya selama peraktek klinisnya antara 1956-1967. Pengalaman kehidupannya pada masa kanak-kanak yang keras dan cenderung tidak menyenagkan juga mempengaruhi pandangan teoritiknya,khususnya tentang penekanan pada pentingnya tanggung jawab pribadi, tidak merugikan orang lain, dan hubungan perkawinan. Seperti dikemukakan oleh Glasser sendiri (1998), ayah dan ibunya menerapkan pendidikan yang keras dan otoriter terhadap dirinya dan oleh karenanya ia tidak rukun dengan mereka.
Buku pertama yang yang ditulis oleh Glasser, Mental Healt or Mental Illnes? Menjadi grandwork bagi perkembangan teori konseling realita. Buku keduanya, Really Therapy (1965) menegaskan prinsip-prinsip dasar dalam Konseling realita, yakni tentang pentingnya hubungan dan tanggung jawab guna mencapai tujuan dan kebahagiaan hidup. Ia memiliki keyakinan bahwa konselor yang hangat dan penuh penerimaan  merupakan aspek esensial bagi keberhasilan perlakuan, dan hubungan yang akrab dan positif adalah esensial bagi perkembangan pribadi yang sehat.  Tilisan-tulisan dalam materi kuliahnya tidak hanya menekankan pada konseling realita sebagai metode perlakuan, tetapi menerapkan pada lingkungan sekolah dan lingkungan bisnis. Robert E. Wubbolding adalah salah satu pengikut Glesser yang memberikan kontribusi sangat penting bagi perkembangnan konseling realita.
1.3 Pandangan Teori Realita Mengenai Konsepsi Tentang Manusia
2.3.1 Pandangan Tentang Sifat Dasar Manusia
Seperti halnya teori–teori psikodinamik konseling realita memandang bahwa kesulitan atau problema perilaku manusia berakar pada pengalaman pada masa kanak-kanak. Untuk dapat berkembang dengan sehat anak  perlu berada ditengah-tengah orang dewasa yang dapat memberinya kasih sayng secara penuh. Kasih sayang yang memungkinkan anak untuk memeperoleh kebebasan kemampuan, dan kesenangan dalam cara-cara yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, sejak tahun-tahun awal dalam kehidupannya, anak seharusnya memperoleh dukungan untuk membentuk sikap dan keyakinan bahwa ia mampu untuk mengenali dan memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang positif.
Konseling ralita memandang manusia pada dasarnya dapat mengarahkan dirinya sendiri (self-determining). Glasser juga memiliki keyakinan bahwa individu memiliki kemampuan untuk menangani kesulitan-kesulitannya. Seperti dikatakan Glasser “we are ralely the victims of what happened to us in the past”. Manusia yang tidak mau belajaruntuk memenuhi kebutuhan mereka pada tahun-tahun awal kehidupan cenderung berpotensi mengalami kesulitan dikemudian hari. Pandangan optimistik Glasser tersebut menegaskan bahwa manusia dapat mengubah perasaan, tindakan dan nasib kehidupannya sendiri. Namun, itu dapat dilakukan hanya jika manusia telah menerima tanggung jawab dan bersedia mengubah identitasnya.
Glasser dan Wubbolding memiliki keyakinan bahwa semua manusia ketika dilahirkan membawa lima kebutuhan dasar atau genetik yang membuat mereka dapat mengembangkan kualitas kepribadian yang berbeda, sebagai berikut:
§  , yakni kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, dan kebutuhan untuk berinteraksi atau berhubungan dengan orang lain.
§  Kebutuhan untuk merasa mampu atau berprestasi, yakni kebutuhan untuk merasa berhasil dan kompeten, berharga, dan dapat mengendalikan atau mengkontrol kehidupan sendiri.
§  Kebutuhan untuk mendapatkan kesenangan, yakni kebutuhan untuk bisa menikmati kebutuhan hidup, untuk bisa tertawa dan bermain.
§  Kebutuhan untuk memperoleh kebebasan atau kemandirian, yaitu kebutuhan untuk mampu membuat pilihan, untuk bisa hidup tanpa batas-batas yang berlebihan atau tidak perlu.
§  Kebutuhan untuk hidup, yakni termasuk didalamnya memperoleh kesehatan, makanan, udara, perlindungan, rasa aman dan kenyamanan fisik.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat saling tumpang tindih satu sama lain. Oleh karena itu, memenuhi suatu kebutuhan mungkin dapat memicu atau mempercepat kebutuhan yang lain. Bagaimanapun antara kebutuhan-kebutuhan tersebut mungkin saja terjadi konflik. Contohnya, orang yang bekerja keras untuk mencapai prestasi atau keberhasilan dalam mencapai kemandirian dan kekuasaan, mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang menyenangkan dengan orang lain.
2.3.2  Perilaku Bermasalah
Reality therapy pada dasarnya tidak mengatakan bahwa perilaku individu itu sebagai perilaku yang abnormal. Konsep perilaku menurut konseling realitas lebih dihubungkan dengan berperilaku yang tepat atau berperilaku yang tidak tepat. Menurut Glasser, bentuk dari perilaku yang tidak tepat tersebut disebabkan karena ketidak mampuannya dalam memuaskan kebutuhannya, akibatnya kehilangan ”sentuhan” dengan realitas objektif, dia tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melihat sesuatu sesuai dengan realitasnya, tidak dapat melakukan atas dasar kebenaran, tangguang jawab dan realitas.
Meskipun konseling realitas tidak menghubungkan perilaku manusia dengan gejala abnormalitas, perilaku bermasalah dapat disepadankan dengan istilah ”identitas kegagalan”. Identitas kegagalan ditandai dengan keterasingan, penolakan diri dan irrasionalitas, perilakunya kaku, tidak objektif, lemah, tidak bertanggung jawab, kurang percaya diri dan menolak kenyataan.
Menurut Glasser (1965, hlm.9), basis dari terapi realitas adalah membantu para klien dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar psikologisnya, yang mencangkup “kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kkebutuhan untuk merasakan bahwa kita berguna baik bagi diri kita sendiri maupun bagi oaring lain”.
Pandangan tentang sifat manusia mencakup pernyataan bahwa suatu “kekuatan pertumbuhan” mendorong kita untuk berusaha mencapai suatu identitas keberhasilan. Penderitaan pribadi bisa diubah hanya dengan perubahan identitas. Pandangan terapi realitas menyatakan bahwa, karena individu-individu bisa mengubaha cara hidup, perasaan, dan tingkah lakunya, maka merekapun bisa mengubah identitasnya. Perubahan identitas tergantung pada perubahan tingkah laku.
Maka jelaslah bahwa terapi realitas yidak berpijak pada filsafat deterministik tentang manusia, tetapi dibangun diatas asumsi bahwa manusia adalah agen yang menentukan dirinya sendiri. Perinsip ini menyiratkan bahwa masing-masing orang memilkiki tanggung jawab untuk menerima konsekuensi-konsekuensi dari tingkah lakunya sendiri. Tampaknya, orang menjadi apa yang ditetapkannya.

Bimbingan Kelompok


Bimbingan Kelompok

 A.      Pengertian bimbingan kelompok
Beberapa pengertian tentang bimbingan kelompok menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1.       Prayitno (1995: 178) mengemukakan bahwa Bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.
2.       Sementara Romlah (2001: 3) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencagah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.
3.       Sedangkan menurut (Sukardi, 2003: 48) Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
4.       Wibowo (2005: 17) menyatakan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Dari beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
B.      Tujuan bimbingan kelompok
Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh beberapa ahli, adalah sebagai berikut:
Menurut amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga menembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:
1.       Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan teman-temannya.
2.       Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok
3.       Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama temanteman dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada umumnya.
4.       Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan kelompok.
5.       Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran lain.
6.       Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial
7.       Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.
Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh (Prayitno, 1995: 178) adalah:
1.       Mampu berbicara di depan orang banyak
2.       Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain sebagainya kepada orang banyak
3.       Belajar menghargai pendapat orang lain,
4.       Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
5.       Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan yang bersifat negatif).
6.       Dapat bertenggang rasa
7.       Menjadi akrab satu sama lainnya,
8.       Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama
Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi yang dimiliki.
C.      Fungsi bimbingan kelompok
Fungsi dari layanan bimbingan kelompok diantaranya adalah sebagai berikut :
1.       Memberi kesempatan yang luas untuk berpendapat dan memberikan tanggapan tentang berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
2.       Mempunyai pemahaman yang efektif, objektif, tepat, dan cukup luas tentang berbagai hal tentang apa yang mereka bicarakan.
3.       Menimbulkan sikap yang positif terhadap keadaan sendiri dan lingkungan mereka yang berhubungan dengan hal-hal yang mereka bicarakan dalam kelompok.
4.       Menyusun progran-program kegiatan untuk mewujudkan penolakan terhadap sesuatu hal yang buruk dan memberikan dukungan terhadap sesuatu hal yang baik.
5.       Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang nyata dan langsung untuk membuahkan hasil sebagaimana apa yang mereka programkan semula.
D.      Asas bimbingan kelompok
Asas-asas yang ada dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya adalah sebagai berikut :
1.       Asas kerahasiaan
Para anggota harus menyimpan dan merahasiakan informasi apa yang dibahas dalam kelompok, terutama hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain
2.       Asas keterbukaan
Para anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat,ide, saran, tentang apa saja yang yang dirasakan dan dipikirkannyatanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
3.       Asas kesukarelaan
Semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpamalu atau dipaksa oleh teman lain atu pemimpin kelompok
4.       Asas kenormatifan
Semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak bolehbertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang berlaku.
E.       Komponen-komponen bimbingan kelompok
Komponen-komponen yang ada dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya terdapat pemimpin kelompok dan anggota kelompok.
1.       Pemimpin kelompok
Pemimpin kelompok memiliki peran penting dalam rangka membawa para anggotanya menuju suasana yang mendukung tercapainya tujuan bimbingan kelompok. Sebagaimana yang dikemukakan Prayitno (1995: 35-36) bahwa peranan pemimpin kelompok ialah:
a.       Pemimpin kelompok dapat memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan kelompok. Campur tang ini meliputi, baik hal-hal yang bersifat isi dari yang dibicarakanmaupun yang mengenai proses kegiatan itu sendiri
b.       Pemimpin kelompok memusatkan perhatian pada suasana yang berkembang dalam kelompok itu, baik perasaan anggota-anggota tertentu maupun keseluruhan kelompok. Pemimpin kelompok dapat menanyakan suasanan perasaan yang dialami itu.
c.       Jika kelompok itu tampaknya kurang menjurus kearah yang dimaksudkan maka pemimpin kelompok perlu memberikan arah yang dimaksudkan itu.
d.       Pemimpin kelompok juga perlu memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadidalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kelompok.
e.       Lebih jauh lagi, pemimpin kelompok juga diharapkan mampu mengatur “lalu lintas” kegiatan kelompok, pemegang aturan permainan (menjadi wasit), pendamai dan pendorong kerja sama serta suasana kebersamaan. Disamping itu pemimpin kelompok, diharapkan bertindak sebagai penjaga agar apapun yang terjadi di dalam kelompok itu tidak merusak ataupun menyakiti satu orang atau lebih anggota kelompok sehingga ia / mereka itu menderita karenanya.
f.        Sifat kerahasiaan dari kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya, juga menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.
2.       Anggota kelompok
Kegiatan layanan bimbingan kelompok sebagian besar juga didasarkan atas peranan para anggotanya. Peranan kelompok tidak akan terwujud tanpa keikutsertaan secara aktif para anggota kelompok tersebut. Karena dapat dikatakan bahwa anggota kelompok merupakan badan dan jiwa kelompok tersebut. Agar dinamika kelompok selalu berkembang, maka peranan yang dimainkan para anggota kelompok adalah:
a.       Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antaranggota kelompok.
b.       Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
c.       Berusaha agar yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
d.       Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya dengan baik.
e.       Benar-benar berusaha untuk secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
f.        Mampu berkomunikasi secara terbuka.
g.       Berusaha membantu anggota lain.
h.       Memberi kesempatan anggota lain untuk juga menjalankan peranannya.
i.        Menyadari pentingnya kegiatan kelompok itu.

Kamis, 09 Mei 2013

konseling keluarga

Bimbingan dan Konseling Keluarga



A.      Kedudukan BK Keluarga dalam Bimbingan dan Konseling
Adapun inti dari pelaksanaan konseling keluarga sebagai salah satu layanan profesional dari seorang konselor didasari oleh asumsi dasar sebagai berikut:

1)   Terjadinya perasaan kecewa, tertekan atau sakitnya seorang anggota keluarga bukan hanya disebabkan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh interaksi yang tidak sehat dengan anggota keluarga yang lain.
2)  Ketidak tahuan individu dalam keluarga tentang peranannya dalam menjalani kehidupan keluarga.
3)   Situasi hubungan suami-isteri dan antar keluarga lainya.

4)   Penyesuaian diri yang kurang sempurna dalam sebuah keluarga sangat mempengaruhi situasi psikologis dalam keluarga
5)   Konseling keluarga diharapkan mampu membantu keluarga mencapai penyesuaian diri yang tinggi diantara seluruh anggota keluarga
6)   Interaksi kedua orang tua sangat mempengaruhi hubungan semua anggota keluarga. Hal ini dikemukakan oleh Perez (1979) menyatakan sebagai berikut: “Family therapi is an interactive proses which seeks to aid the family in regainnga homeostatic balance with all the members are confortabl”..
 Dari definisi di atas konseling keluarga merupakan suatu proses interaktif untuk membantu keluarga dalam mencapai kondisi psikologis yang serasi atau seimbang sehingga semua anggota keluarga bahagia. Ini berarti bahwa sebuah keluarga membutuhkan pendekatan yang beragam untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh anggota keluarga. Rumusan di atas memuat dua implikasi yaitu; terganggunya kondisi seorang anggota keluarga merupakan hasil adaptasi/interaksi terhadap lingkungan yang sakit yang diciptakan didalam keluarga. Kedua, seorang anggota keluarga yang mengalami gangguan emosional akan mempengaruhi suasana dan interaksi anggota keluarga yang lain, sehingga diupayakan pemberian bantuan melalui konseling keluarga. Terlaksananya konseling keluarga akan membantu anggota keluarga mencapai keseimbangan psiko dan psikis sehingga terwujudnya rasa bahagia dan kenyamanan bagi semua anggota keluarga.

B.       Fungsi BK Keluarga.
Fungsi dari konseling keluarga pada hakikatnya merupakan layanan yang bersifat profesional yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1) Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
2)  Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
3) Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
4)  Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.
5)    Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.
6)   Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.
Agar mampu mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, maka seorang konselor keluarga hendaknya memiliki kemampuan sebagai berikut:
1)   Memiliki kemampuan berfikir cerdas, berwawasan yang luas, serta komunikasi yang tangkas dengan penerapan moral yang laras dengan penerapan teknik-teknik konseling yang tangkas
2)   Etika professional, yakni kemampuan memahami dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah pelayanan konseling yang dipadukan dalam hubungan pelayanan konseling terhadap anggota keluarga
3)    Terlatih dan terampil dalam melaksanakan konseling keluarga
4)    Mampu menampilkan ciri-ciri karakter dan kepribadian untuk menangani interaksi yang kompleks pasangan yang sedang konflik dan mendapatkan latihan untuk memiliki keterampilan khusus.
5)     Memiliki pengetahuan yang logis tentang hakikat keluarga den kehidupan berkeluarga.
6)     Memiliki jiwa yang terbuka dan fleksibel dalam melaksanakan konseling keluarga.
7)     Harus obyektif setiap saat dalam menelaah dan menganalisa masalah

C.      Disfungsi Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Anak.
Dadang Hawari (dalam Marwisni Hasan, 2006:26) mengemukakan bahwa keluarga adalah organisasi bio-psikososial, di mana pada anggotanya terikat dengan satu ikatan khusus untuk hidup bersama, bukan suatu ikatan yang sifatnya statis (beku) dan membelenggu, namun suatu ikatan dinamis (bergerak) yang memungkinkan para anggota keluarga itu berkembang dan tumbuh.
Kelahiran anak-anak awalnya positif bagi keluarga yang tidak berfungsi (disfungsional). Karena membawa kebanggaan dan sukacita. Seolah-olah problem mereka selama ini menjadi berkurang dengan hadirnya anak. Mereka menjadi lupa pada problem mereka. Namun setelah anak besar dan keluar rumah, problem mereka muncul kembali. Jadi hanya terjadi pengalihan sementara.
Di sisi lain anak bisa membawa angin tak segar. Sebab anak menuntut perhatian orang tua. Namun kalau orang tuanya masih bersifat anak-anak sulit sulit mengasuh anak dengan baik. Malah sebaliknya si ayah dan ibu yang jadi anak dan butuh perhatian.
Karena ketidakmampuan mengasuh anak banyak orang tua memberikan pengasuhan anaknya pada baby sitter. Ironisnya anak yang dibesarkan baby sitter cenderung punya perasaan juragan, sebab ia biasa memerintah di rumah. Setelah anak itu besar dan menikah ia pun cenderung jadi juragan bagi pasangannya, sehingga menjadi sumber masalah nantinya.
Waktu bersama anak bagai berlian yang hilang di era kita. Apa peran orang tua bagi anak?
1)  Membantu anak menghadapi satu lingkungan yang membosankan, penuh kekerasan dan makin egois.
2) Mengajarkan anak bagaimana berkata-kata dan bertindak dalam situasi tertentu. Misalnya bagaimana menghadapi temannya yang suka kasar dan mengejek.
3)  Mengajar anak bagaimana dan kapan mengungkapkan emosinya secara asertif. Kita harus jadi contoh dalam hal marah.
4) Beri anak kesempatan untuk marah atau menangis, dan ambil ambil waktu bicara dengan dia pribadi sesudah dia mengungkapkan emosinya.
Adanya anak tidak jarang akhirnya menambah pro-blem, meskipun ada di antara orang tua yang berkata, “Saya hidup ini hanya demi anak saya saja.” Namun sebenarnya itu disebabkan mereka sebagai suami dan istri sudah tidak dapat hidup satu sama lain. Akhirnya mereka berharap anaklah yang membahagiakan mereka. Akibatnya mereka sangat menuntut anak, supaya baik, taat, pintar, berprestasi dan sebagainya. Ini sangat keliru. Seharusnya anak bertugas sebagai anak, bukan sebagai pembahagia orang tua. Sebagian orang tua menginvestasikan hidupnya pada anak. Bekerja keras demi anak. Namun harapannya salah. Mereka berharap dengan kerja keras, anak bisa belajar di sekolah yang mahal. Uang tidak masalah (ini dimanfaatkan sebagian sekolah). Tujuannya adalah agar si anak bisa kuliah di tempat yang baik, kerja dapat gaji tinggi, dan bisa menguntungkan orang tua. Kalau prestasi anak tidak seperti harapan orang tua, ayah atau ibu tentu akan sangat kecewa. Harapan ini sangat kuat dalam banyak orangtua zaman ini

Definisi-definisi Bimbingan konseling

1. Definisi Bimbingan

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.


2. Definisi Konseling

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.

Pengertian Bimbingan Konseling

Dari semua pendapat di atas dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.

10 Cara bertamu yang baik

Disaat-saat musim liburan seperti ini pastilah kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat sanak-saudara atau teman yang jauh. Biasanya untuk menghemat biaya dan menghilangkan rasa rindu so pasti kita menginap, walaupun kita tidak meminta Tuan Rumah untuk memberi kita tumpangan. Tapi pasti tuan rumah yang baik selalu ingin membuat tamunya betah. Saat menginap inilah kita harus mengikuti tips-tips dibawah ini agar si Tuan Rumah tidak bete dan jengkel saat kita menginap dirumahnya :

1.  Datang Tepat Waktu
http://faktabukanopini.blogspot.com/


Jika kita sudah membuat janji dengan si empunya rumah, maka diharuskan kita untuk datang tepat waktu agar mereka tidak menunggu. Karena seseorang akan merasa bete dan sebal jika dia menunggu terlalu lama. Mungkin saja si Tuan Rumah ada janji lain tetapi harus dibatalkan karena menunggu kedatangan kita.


2.  Sempatkan Membawa Oleh-oleh
http://faktabukanopini.blogspot.com/


Saat diperjalanan, sempatkanlah untuk membeli oleh-oleh tidak perlu mahal yang penting mereka senang. Oleh-oleh yang dibeli bisa berupa makanan, pakaian, dll. Memberi oleh-oleh juga bertujuan agar si Tuan Rumah memandang kita dengan pikiran yang positif dan baik. Selain itu juga oleh-oleh dapat membuat gembira mereka yang menerimanya karena itu membuktikan kalau kita peduli dengan mereka.


3.  Bantu-bantu Si Empunya Rumah

Kita harus paham jika kita saat kita menginap berarti kita juga menumpang dirumah kerabat atau teman jauh. Oleh karena itu, kita harus membantu si empunya rumah dalam urusan bersih-bersih. Biasanya si empunya rumah menolak jika kita menawarkan bantuan dengan alasan untuk membuat tamu merasa nyaman. Namun, kita harus tetap membantu mereka walaupun mereka menolak. Hal ini bertujuan untuk melihat apakah kita tidak hanya ingin senang-senang saja disana.


4.  Menjaga Kebersihan
http://faktabukanopini.blogspot.com/

Kebersihan merupakan hal utama yang perlu diperhatikan. Si Empunya Rumah sudah pasti tidak suka kalau rumahnya kotor apalagi jika kotor karena kita yang notabene adalah tamu. Maka dari itu, jagalah kebersihan diri kita agar Tuan Rumah senang kita menginap dirumahnya. 


5.  Jangan Lupa Minta Izin

Walaupun kita menginap dirumah kerabat atau teman dekat yang sudah kenal lama kita harus tau kalau kedudukan kita hanyalah sebagai tamu. Biasanya kan kalau kerabat kita pasti menyuruh kita untuk menganggap rumahnya sebagai rumah sendiri, tetapi jangan lupa juga kita harus meminta izin bila ingin menggunakan sesuatu dirumah itu.


6.  Menawarkan Untuk Membayar atau Jasa
1
Untuk melepas kerinduan, biasanya kita akan makan malam atau jalan-jalan kesuatu tempat untk menjamu kita. Jangan segan-segan untuk menawarkan diri untuk membayar makanan atau belanjaan si Tuan Rumah. Hal ini untuk menghindari pikiran negatif si Tuan Rumah terhadap kita. Jika si Tuan Rumah menolak maka kita bisa membantunya membawakan belanjaannya ata barang-barangnya.


7.  Beritahu Jadwal Anda

 Kita biasanya sering memiliki acara lain dengan orang lain atau teman sepupu kita. Sperti misalnya kita ada janji untuk hangout sama teman-teman sepupu kita atau ingin belanja oleh-oleh sendiri, maka kita wajib memberi tau si Tuan Rumah agar mereka tidak menunggu sampai larut dan mengetaui kemana kita pergi. Hal ini dikarenakan saat menginap ditempat orang, berarti orang itu bertanggung jawab atas kita sepenuhnya.


8.  Berpakaian Sopan
http://faktabukanopini.blogspot.com/


Jika kita terbiasa berpakaian yang urakan atau mini karen memang di Jakarta seperti itu. Maka saat kita menginap dirumah kerabat atau teman yang berada didaerah perdesaan kita harus merubah cara berpakaian kita agar terlihat rapi dan sopan. Hal ini untuk menjaga nama baik kerabat kita atau keluarga teman kita dari omongan negatif para tetangga.


9.  Jangan Lupa Rapikan Tempat Tidur.
http://faktabukanopini.blogspot.com/


Mungkin kita jarang atau tidak pernah merapikan tempat tidur kita sendiri kalau dirumah karena ada si Mbok yang siap merapikannya. Tuan Rumah pasti akan langsung merapikan kasur yang kita tiduri, maka dari itu jangan membuat dia kesal karena kita malas. Walaupun dirumah tersebut ada si Mbok juga, tetapi kita tuga perlu tau diri dan merapikan tempat tidur saat kita bangun.


10.  Jangan Menginap Terlalu Lama

Meskipun si Tuan Rumah menyuruh kita untuk tinggal lebih lama dan kita pun betah disana. kita harus tau kalau si Tuan Rumah memiliki rencana lain, jangan sampai karena kita kelamaan disana kita malah disindir-sindir olehnya. 

Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial Konsep

Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial Konsep


Pengertian Bimbingan Pribadi-Sosial - Bimbingan merupakan upaya untuk membantu individu  berkembang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya secara bertahap dalam proses yang matang. Rochman Natawidjaja (Syamsu Yusuf, 2009: 38) mengartikan bimbingan sebagai proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.


 W.S. Winkel  (1991: 124) mendefinisikan bimbingan sebagai pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada sekelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam mengadakan penyesuaian diri terhadap tuntutan hidup.

Moh. Surya (1988:36) mengemukakan bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya.

Senada dengan pendapat M.Surya, Prayitno (1987:35) mengemukakan :

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seseorang (individu) atau sekelompok orang agar mereka itu dapat berkembang menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini mencakup 5 fungsi pokok yang hendaknya dijalankan oleh pribadi yang mandiri yaitu
  1. Mengenal diri sendiri dan lingkungan, 
  2. Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, 
  3. Mengambil keputusan, 
  4. Mengarahkan diri, 
  5. Mewujudkan diri.

Berdasarkan definisi-definisi bimbingan yang telah  dipaparkan, dapat disimpulkan yaitu :
  1. Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu secara kontinyu dan sistematis, 
  2. Bertujuan untuk membantu proses pengembangan potensi diri melalui pola-pola sosial yang dilakukannya sehari-hari di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Pola-pola sosial yang dimaksudkan adalah pola-pola dimana individu tersebut dapat melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya.

Bimbingan pribadi merupakan upaya untuk membantu individu dalam menemukan dan mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap dam mandiri serta sehat jasmani dan rohani. Sementara bimbingan sosial merupakan upaya untuk membantu individu dalam mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur dan tanggung jawab. Bimbingan pribadi-sosial berarti upaya untuk membantu individu dalam menghadapi keadaan batinnya sendiri dan mengatasi konflik-konflik dalam diri dalam upaya mengatur dirinya sendiri di bidang kerohanian, perawatan jasmani, pengisian waktu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya, serta upaya membantu individu dalam membina hubungan sosial di  berbagai lingkungan (pergaulan sosial) (Yusuf, 2009: 53-55).

Pada dasarnya bimbingan tidak hanya berfungsi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi individu (kuratif), melainkan memiliki fungsi lain yaitu sebagai upaya pencegahan  (preventif) dan pengembangan  (developmental). Lynn Bullard (Syamsu Yusuf, 1998:78) mengungkapkan untuk melakukan reformasi (pembaharuan) program bimbingan dan konseling secara tepat, maka layanan-layanannya harus diintegrasikan ke dalam program-program yang berorientasi pengembangan, yang membantu para siswa mengembangkan dan mempraktekkan kompetensi-kompetensinya.

Bimbingan dan konseling yang berorientasi pengembangan tidak hanya berfungsi untuk membantu individu ketika permasalahan muncul, melainkan lebih kepada sebelum permasalahan terjadi dan upaya membantu individu mencapai  self developmental dan self realization. Individu dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan, (A.K. Nayak,1997: 5).

Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005 : 11) merumuskan bimbingan pribadi-sosial sebagai suatu upaya membantu individu dalam memecahkan masalah yang berhubungan dengan keadaan psikologis dan sosial klien, sehingga individu memantapkan kepribadian dan mengembangkan kemampuan individu dalam menangani masalah-masalah dirinnya.

Bimbingan pribadi-sosial juga sebagai upaya pengembangan kemampuan peserta didik untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah pribadi-sosial dengan cara menciptakan lingkungan interaksi pendidikan yang kondusif, mengembangkan sistem pemahaman diri dan sikap-sikap positif, serta dengan mengembangkan kemampuan pribadi-sosial.

Berdasarkan berbagai pengertian yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan bimbingan pribadi-sosial merupakan upaya layanan yang diberikan kepada siswa agar mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialaminya, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, sehingga mampu membina hubungan sosial yang harmonis di lingkungannya. Bimbingan pribadi-sosial diberikan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan system pemahaman diri, dan sikap-sikap yang positif, serta kemampuan-kemampuan pribadi sosial yang tepat. 


b.  Tujuan Bimbingan Pribadi-Sosial
Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan (2005:14), merumuskan beberapa tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-sosial sebagai berikut :
  1. memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam  kehidupan pribadi, keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat pada umumnya.
  2. memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing. 
  3. memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. 
  4. memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik fisik maupun psikis.  
  5. memiliki sifat positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 
  6. memiliki kemampuan melakukan pilihan secara sehat. 
  7. bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya. 
  8. memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam  bentuk komitmen, terhadap tugas dan kewajibannya. 
  9. memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang diwujudkan dalam bentuk persahabatan, persaudaraan atau silaturahmi dengan sesama manusia. 
  10. memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat internal (dalam diri sendiri) maupun orang lain. 
  11. emiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

Juntika Nurihsan (2003 : 9) menyatakan tujuan bimbingan pada akhirnya membantu individu dalam mencapai:
  1. Kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan, 
  2. Kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat, 
  3. Hidup bersama dengan individu-individu lain, dan 
  4. Harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya. Dapat disimpulkan tujuan bimbingan pribadi pribadi sosial yang harus dikembangkan dalam program layanan bimbingan dan konseling adalah memfasilitasi siswa dalam mengarahkan pemantapan kepribadian serta mengembangkan kemampuan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi dan sosial siswa.
c.  Fungsi Bimbingan Pribadi-Sosial

Fungsi dalam bimbingan pribadi-sosial yang diungkapkan oleh Totok (Rima Puspita, 2007:47-49), yaitu :
  1. Berubah menuju pertumbuhan. Pada bimbingan pribadi-sosial, konselor secara berkesinambungan memfasilitasi individu agar mampu menjadi agen perubahan (agent of change) bagi dirinya dan lingkungannya. Konselor juga berusaha membantu individu sedemikian rupa sehingga individu mampu menggunakan segala sumber daya yang dimilikinya untuk berubah.
  2. Pemahaman diri secara penuh dan utuh. Individu memahami kelemahan dan kekuatan yang ada dalam dirinya, serta kesempatan dan tantangan yang ada diluar dirinya. Pada dasarnya melalui bimbingan pribadi sosial diharapkan individu mampu mencapai tingkat kedewasaan dan kepribadian yang utuh dan penuh seperti yang diharapkan, sehingga individu tidak memiliki kepribadian yang terpecah lagi dan mampu mengintegrasi diri dalam segala aspek kehidupan secara utuh, selaras, serasi dan seimbang. 
  3. Belajar berkomunikasi yang lebih sehat. Bimbingan pribadi sosial dapat berfungsi sebagai media pelatihan bagi individu untuk berkomunikasi secara lebih sehat dengan lingkungannya. 
  4. Berlatih tingkah laku baru yang lebih sehat. Bimbingan pribadi-sosial digunakan sebagai media untuk menciptakan dan berlatih perilaku baru yang lebih sehat. 
  5. Belajar untuk mengungkapkan diri secara penuh dan utuh. Melalui bimbingan pribadi-sosial diharapkan individu dapat dengan spontan, kreatif, dan efektif dalam mengungkapkan perasaan, keinginan, dan inspirasinya. 
  6. Individu mampu bertahan. Melalui bimbingan pribadi-sosial diharapkan individu dapat bertahan dengan keadaan masa kini, dapat menerima keadaan dengan lapang dada, dan mengatur kembali kehidupannya dengan kondisi yang baru. 
  7. Menghilangkan gejala-gejala yang disfungsional. Konselor membantu individu dalam menghilangkan atau menyembuhkan gejala yang menggangu sebagai akibat dari krisis.



2.  Program Bimbingan Pribadi-Sosial
a.  Definisi Program


Salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru pembimbing atau konselor sekolah adalah mengelola program bimbingan dan konseling, yaitu: merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan merancang tindak lanjut atau mendesain perbaikan atau pengembangan program bimbingan dan konseling (Yusuf, 2009: 68-69).

Program dalam layanan bimbingan dan konseling merupakan rencana menyeluruh dari aktivitas suatu lembaga atau unit yang berisi layanan-layanan yang terencana beserta waktu pelaksanaan dan pelaksananya (Mappiare, 2006:254).

Dalam konteks bimbingan dan konseling, program bimbingan dan konseling terintegrasi dengan kurikulum yang mendukung pencapaian visi dan misi sekolah, seperti ditegaskan oleh Gysbers & Handerson (Muqodas, 2011) bahwa “...true comprehensive, developmental school counseling programs are well integrated into a curriculum that supports the mission of the school  district, and complement the existing academic programs.” 

Borders & Durry (Muqodas, 2011: 5) menyatakan program bimbingan dan konseling perkembangan adalah program yang bersifat proaktif, preventif, dan bersifat mengarahkan dalam proses membantu seluruh  siswa menemukan pengetahuan, kemampuan,  self-awareness, dan sikap-sikap yang dibutuhkan dalam proses perkembangan individu.

Dari berbagai definisi para ahli, dapat disimpulkan yang dimaksud dengan program bimbingan dan konseling adalah serangkaian rencana kegiatan layanan yang disusun secara sistematis, terencana, dan terarah berlandaskan pada analisis kebutuhan siswa, guna mencapai dan memfasilitasi perkembangan siswa secara optimal serta untuk menunjang pencapaian tujuan, visi dan misi sekolah.

b.  Prinsip-prinsip dalam Pengembangan Program

Program bimbingan berisikan sejumlah kegiatan layanan bimbingan. Suatu program bimbingan merupakan suatu rangkaian kegiatan bimbingan yang terencana, terorganisasi dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu. Program bimbingan yang dikembangkan menjadi pedoman yang pasti dan jelas bagi tenaga pembimbing di sekolah sehingga kegiatan bimbingan di sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif, efisien serta dapat dilakukan evaluasi baik terhadap program, proses maupun hasil. Program bim bingan yang disusun secara baik  dan matang tentu saja akan memberikan banyak keuntungan, yaitu baik bagi siswa yang mendapatkan layanan maupun bagi guru pembimbing atau staf bimbingan yang melaksanakannya.

Ciri-ciri program bimbingan yang baik menurut Miller (Uman Suherman dan

Dadang Sudrajat, 1998 : 23), yaitu : 
  1. Disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata siswa.
  2. Diatur menurut skala prioritas berdasarkan kebutuhan siswa. 
  3. Dikembangkan secara berangsur-angsur dengan melibatkan semua unsur petugas. 
  4. Mempunyai tujuan yang ideal tetapi realistis. 
  5. Mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan di antara semua staf pelaksana. 
  6. Menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. 
  7. Penyusunannya disesuaikan dengan program pendidikan dan pengajaran di sekolah yang bersangkutan. 
  8. Memberikan kemungkinan pelayanan kepada seluruh siswa. 
  9. Memperlihatkan peran yang penting dalam menghubungkan sekolah dengan masyarakat. 
  10. Berlangsung sejalan dengan proses penilaian baik mengenai program, kemajuan siswa yang dibimbing, dan kemajuan pengetahuan, kemampuan serta sikap para petugas pelaksananya. 
  11. Menjamin keseimbangan dan kesinambungan pelayanan bimbingan.

Dewa Ketut dan Desak Made (1990:14-16) mengemukakan beberapa keuntungan yang diperoleh dengan program bimbingan yang terencana, yaitu : 
  1. Tujuan setiap langkah bimbingan akan lebih jelas.
  2. Setiap petugas bimbingan akan menyadari peranan dan tugasnya. 
  3. Penyediaan fasilitas akan lebih sempurna. 
  4. Pemberian pelayanan lebih teratur dan memadai. 
  5. Memungkinkan lebih eratnya komunikasi dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan kegiatan bimbingan. 
  6. Adanya kejelasan kegiatan bimbingan di antara keseluruhan kegiatan program sekolah.

Pengembangan program bimbingan di sekolah memegang  peranan penting dalam rangka keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah. Pengembangan program bimbingan di sekolah, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu : 
  1. Karakteristik para peserta didik serta kebutuhan akan bimbingan dan konseling.
  2. Dasar dan tujuan lembaga pendidikan bersangkutan. 
  3. Kemampuan lembaga dalam menyediakan dana dan fasilitas yang diperlukan. 
  4. Lingkup sasaran dan prioritas kegiatan. 
  5. Jenis kegiatan dan layanan yang perlu diprioritaskan. 
  6. Ketersediaan tenaga profesional untuk melaksanakan  kegiatan bimbingan dan konseling.

c.  Komponen Program
Komponen program (Rambu-Rambu Penyelengaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, 2008 : 224) dipaparkan sebagai berikut: 
1)  Layanan dasar

a)  Bimbingan Klasikal
 Program yang dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak langsung dengan siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada siswa. Kegiatan bimbingan klasikal dapat berupa diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).

b)  Pelayanan Orientasi
 Pelayanan orientasi merupakan kegiatan yang memungkinkan siswa dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru,terutama dengan lingkungan sekolah. Pelayanan orientasi di sekolah biasanya dilaksanakan pada awal program pelajaran baru. Materi pelayanan orientasi  di sekolah biasanya mencakup organisasi sekolah, staf dan guru-guru, kurikulum, program bimbingan dan konseling, program ekstrakurikuler, fasilitas atau sarana dan prasarana, dan tata tertib sekolah.

c)  Pelayanan Informasi
 Layanan pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi siswa melalui komunikasi langsung maupun komunikasi tidak langsung (melalui media cetak dan elektronik yang meliputi: buku, brosur, majalah dan internet).

d)  Bimbingan Kelompok
 Layanan bimbingan yang diberikan kepada siswa melalui kelompok-kelompok kecil (5 s.d 10 orang). Bimbingan kelompok ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat siswa. Topik yang didiskusikan  dalam bimbingan kelompok adalah masalah-masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia.


e)  Pelayanan Pengumpulan Data
 Pelayanan pengumpulan data merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi siswa dan lingkungannya. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.


2)  Layanan responsif

a)  Konseling individual dan kelompok
 Pemberian layanan konseling ditujukan untuk membantu konseli yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Melalui konseling, konseli dibantu untuk mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.

b)  Referal (rujukan atau alih tangan)
Konselor yang kurang memiliki kemampuan untuk menangani masalah konseli, maka sebaiknya mereferal atau mengalihtangankan konseli kepada pihak yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater,  dokter, kepolisian dan banyak lainnya.

c)  Kolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas
Konselor berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan wali kelas dalam rangka memperoleh informasi tentang konseli, memecahkan masalah konseli, dan mengidentifikasi aspek-aspek bimbingan yang perlu dilakukan.

d)  Kolaborasi dengan orang tua
Konselor perlu melakukan kerjasama dengan orang tua, karena proses bimbingan tidak hanya terjadi di sekolah saja melainkan juga di rumah. Melalui kerjasama memungkinkan terjadinya saling memberikan informasi, pengertian, dan tukar pikiran antara konselor dengan orang tua siswa dalam upaya mengembangkan potensi konseli atau memecahkan masalah yang mungkin dihadapi konseli.

e)  Kolaborasi dengan pihak-pihak terkait di luar sekolah
Konselor perlu menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan mutu pelayanan bimbingan.

f)  Konferensi kasus
Konfrensi kasus merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan dalam memecahkan masalah konseli.

g)  Kunjungan rumah
Kegiatan untuk memperoleh data atau keterangan tentang konseli tertentu yang sedang ditangani, dalam upaya menyelesaikan masalahnya.


3)  Perencanaan Individual 
Konselor membantu konseli menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangan. Melalui perencanaan individual, siswa memiliki pemahaman, penerimaan, dan pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif. Fungsi konselor dalam perencanaan individual meliputi pemberian pertimbangan, penempatan dan penilaian individual.  Pada perencanaan individual, siswa menggunakan informasi yang diperolehnya untuk : 1) merumuskan tujuan, dan merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya, 2) melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah ditetapkan, dan  3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

4)  Dukungan Sistem
Dukungan sistem kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan profesional (hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat), manajemen program, penelitian dan pengembangan. 


Penyesuaian Sosial Siswa Berdasarkan  Gender  dan Implikasinya bagi Program Bimbingan Pribadi-Sosial

1.  Penyesuaian Sosial Siswa Berdasarkan Gender
Schneiders (1964: 454-455) menyatakan ”Social adjustment signifies the capacity to react efectively and wholesomely to social realities, situation, and relation so that the requirements for social living are fulfilled in acceptable and satisfactory manner”.

Penyesuaian sosial menandakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk bereaksi secara efektif dan wajar pada realitas sosial, situasi, dan relasi sosial dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan sesuai ketentuan dalam kehidupan sosial.

Selain itu, penyesuaian didefinisikan juga sebagai  proses yang mencakup respon mental dan perilaku di dalam mengatasi tuntutan sosial yang membebani dirinya dan dialami dalam relasinya dengan lingkungan sosial (Schneiders, 1964: 454).

Selanjutnya, Callhoun dan Accocella (Fauziah: 2004: 30) mendefinisikan bahwa penyesuaian sosial sebagai interaksi yang kontinyu dengan diri sendiri, orang lain, dan dunia atau lingkungan sekitar. Sedangkan  menurut Mu’tadin (2002: 3), penyesuaian sosial adalah kemampuan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan.

Berdasarkan beberapa definisi penyesusian sosial di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud penyesuaian sosial adalah kemampuan individu dalam mereaksi tuntutan-tuntutan sosial secara tepat dan wajar.

Holmberg & MacKenzie (Nicole A. Healy, Tammy H. Scheidegger, Amy L. Ridley Meyers, and Karen Friedlen, 2009: 5) mengemukakan bahwa “relationship beliefs play a role in developing what an individual’s ideal relationship looks like. Senada dengan pendapat Holmberg & MacKenzie, Fletcher, Thomas & Simpson

(Nicole A. Healy, Tammy H. Scheidegger, Amy L. Ridley Meyers, and Karen Friedlen, 2009: 5) mengungkapkan bahwa “the ideal relationship provides insight about a person’s actual relationship in three ways: an estimation and evaluation of quality, regulation and accompanying adjustments, and enhanced understanding of events of the relationship.

Senyshyn et al. (Nicole A. Healy, Tammy H. Scheidegger, Amy L. Ridley Meyers, and Karen Friedlen, 2009: 6) mengemukakan bahwa “...Males were more satisfied and confident and had fewer difficulties  than females,  The process of adjustment appears to be gradual.”

Kemampuan penyesuaian sosial siswa dalam penelitian ini dibandingkan berdasarkan perbedaan  gender, yang dimaksud  gender dalam penelitian ini adalah jenis kelamin. Perbandingan tersebut menyangkut aspek kemampuan siswa menjalin hubungan persahabatan dengan teman di sekolah, kemampuan siswa bersikap hormat terhadap guru, kepala sekolah, dan staf sekolah yang lainnya, parisipasi aktif siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan siswa bersikap hormat dan mau menerima peraturan sekolah.

Data-data yang didapatkan dari hasil penyebaran instrumen kepada siswa dijadikan acuan dalam mengembangkan program bimbingan dan konseling pribadi-sosial. Secara eksplisit layanan bimbingan bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya dan menyelesaikan masalahnya (Yusuf, 2009: 49). Salah satunya meliputi bidang pribadi-sosial. Bimbingan pribadi-sosial bertujuan untuk membantu siswa mencapai tugas-tugas perkembangan pribadi-sosialnya serta mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi, baik yang bersifat pribadi, maupun sosial.

Surya (1988: 47) mengemukakan pengertian bimbingan pribadi-sosial sebagai bimbingan dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial seperti masalah pergaulan, penyelesaian konflik, penyesuaian diri, dan sebagainya.

Selanjutnya Winkel (1991: 124) mengungkapkan bimbingan pribadi-sosial merupakan proses bantuan yang menyangkut keadaan batinnya sendiri, dan yang menyangkut hubungan dengan orang lain. 

Dalam bidang pribadi, membantu siswa menemukan dan  mengembangkan pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mantap, dan mandiri serta sehat jasmani dan rohani. Sedangkan dalam bidang sosial, membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan (Yusuf, 2009: 50).

Berdasarkan beberapa pemaparan mengenai definisi bimbingan pribadi-sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi-sosial merupakan layanan yang diberikan kepada siswa agar mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialaminya, baik yang bersifat pribadi maupun sosial, sehingga mampu membina hubungan sosial yang harmonis di lingkungannya.

Berdasarkan Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal (2007: 14), tujuan bimbingan dan konseling dalam bidang pribadi-sosial adalah untuk membantu siswa agar;
  1. memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun pergaulan dengan teman sebaya;
  2. memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing; 
  3. memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif antara yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, serta mampu meresponnya secara positif sesuai dengan ajaran agama yang dianut; 
  4. memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara obyektif dan konstruktif, baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan, baik psikis maupun fisik; 
  5. memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain; 
  6. bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya; 
  7. memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara tepat dan sehat; 
  8. memiliki rasa tanggung jawab yang diwujudkan dalam  bentuk komitmen terhadap tugas atau kewajibannya; 
  9. memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau silaturahmi dengan swsama manusia; 
  10. memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik, baik yang bersifat internal maupun dengan orang lain; 
  11. memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara efektif.